SELAMAT DATANG DI WEBSITE INTAN YOGYAKARTA



Joglo Tani Didik Yatim Piatu Jadi Petani

Kamis, 24 Januari 2013 - 16:19:57 WIBDiposting oleh : Administrator
Kategori : Berita & Informasi


SLEMAN - Joglo Tani di Dusun Mandungan, Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendidik anak yatim piatu dan dari keluarga miskin dari seluruh Indonesia agar menjadi petani tangguh bergelar sarjana.

"Saat ini sudah ada 300 anak yatim piatu dan dari keluarga miskin terutama dari daerah-daerah yang dilanda bencana seperti Aceh, Natuna, Papua, dan sejumlah lainnya yang kami bina di sini," kata ketua pengelola Joglo Tani, TO Suprapto, Sabtu (8/12).

Menurut dia, anak-anak tersebut dikuliahkan di Institut Pertanian (Intan) Yogyakarta.

Saat praktik lapangan, mereka langsung terjun menggarap lahan pertanian maupun peternakan di Joglo Tani.

"Jadi, nanti setelah mereka selesai, akan mendapatkan ijazah sarjana dari Intan Yogyakarta, dan sertifikat keahlian dari Joglo Tani," katanya.

Ia mengatakan, pihaknya sangat yakin mereka yang telah dibina itu akan menjadi petani yang tangguh, dan siap mengaplikasikan ilmu pengetahuannya di daerah asalnya, setelah mereka kembali.

"Kami ingin menciptakan petani sarjana, dan sarjana petani. Kami jamin kualitas mereka siap untuk menghasilkan karya di daerah asalnya. Kami tekankan kepada mereka jangan melamar pekerjaan, tapi ciptakan pekerjaan. Kecuali jika mereka dilamar, itu lain persoalan," katanya.

TO Suprapto mengatakan anak-anak yatim piatu, dan dari keluarga miskin yang mulai direkrut sejak 2009, dan masing-masing angkatan jumlahnya sekitar 100 anak, juga harus menaati aturan di Joglo Tani.

"Sekecil apa pun nilainya, mereka tidak boleh mengambil barang orang lain. Mereka juga harus menjauhi narkoba, dan kebiasaan egois, serta sejumlah aturan lainnya," katanya.

Jika mereka ada yang melanggar, menurut dia, akan langsung dikembalikan ke daerah asalnya.

Ia mengatakan di Joglo Tani, mereka akan dididik dan dibina mengenai pertanian, terutama pertanian terpadu, guna lebih memberdayakan kehidupan petani, sehingga tidak tergantung dan terpengaruh pada himpitan lingkungan, ekonomi, sosial, dan kebijakan.

"Kami didik mereka menjadi petani mandiri, dan berdaya saing kuat, mulai dari membuat benih sendiri, membuat pupuk, mengolah hasil pertanian hingga ke pemasaran, sehingga nantinya menjadi petani yang sejahtera," katanya.
Sumber : Ant



BERITA TERKAIT :