SELAMAT DATANG DI WEBSITE INTAN YOGYAKARTA



Pemanfaatan Daun Bambu Sebagai Bahan Baku Pupuk Organik untuk Mengembalikan Daya Dukung Lahan Pertan

Senin, 28 Agustus 2017 - 13:47:30 WIBDiposting oleh : Administrator
Kategori : Pertanian Indonesia


Pemanfaatan Daun Bambu Sebagai Bahan Baku Pupuk Organik untuk Mengembalikan Daya Dukung Lahan Pertanian di Desa Margomulyo, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, 

D. I.  Yogyakarta

Noordiana Herry Purwanti1, N. Adi Sutoko, S.P., M.P.2 dan F. Woro Rismiyatun, M.Ps.Si.3

1,2,3Staf Pengajar Fakultas Pertanian INTAN Yogyakarta

 

Staf Pengajar Fakultas Pertanian Institut Pertanian INTAN Yogyakarta yag terdiri dari: Ir. Noordiana Herry Purwanti,M.P. , N. Adi Sutoko, SP.,M.P.  dan Dra. F. Woro Rismiyatun, M.Pd.Si. mendapatkan dana hibah pengabdian dari Ristek Dikti pada program Ipteks bagi Masyarakat (IbM) tahun 2017. Pengabdian program IbM dengan judul “Pemanfaatan daun bambu sebagai bahan baku pupuk organik untuk mengembalikan daya dukung lahan pertanian di desa Margomulyo, kecamatan Seyegan, kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta”, diangkat dari adanya permasalahan  yang ada pada kelompok Ngudi Mulyo dan Ngudi Makmur yaitu limbah daun bambu yang meruah dan belum dimanfaatkan. Hasil penelitian Badan Litbang Pertanian, tingkat kesuburan lahan sawah di Indonesia semakin menurun.  Luas lahan sawah irigasi  di Indonesia ± 7,5 juta ha, sekitar 65% mempunyai kandungan bahan organic rendah sampai sedang (kurang dari 2%). Kondisi normal lahan sawah subur mengandung bahan organik minimal 3%. Potensi pupuk organik di Indonesia baru dipenuhi 10% dari kebutuhan untuk pertanian /tahun (kebutuhan ± 11 juta ton/tahun). Untuk mendukung pemanfaatan pupuk organik di Indonesia, Menteri Pertanian mengeluarkan peraturan  No: 51/Permentan/OT.140/9/2010  tentang Pedoman Umum Pemulihan Kesuburan Lahan, dengan tujuan :  petani memanfaatkan limbah tanaman dalam penyediaan pupuk organikinsitu, meningkatkan produktivitas lahan sawah yang berkelanjutan melalui penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati, meningkatkan efesiensi penggunaan pupuk anorganik, mengurangi beban anggaran subsidi pupuk. Peratutan Menteri Pertanian Pemerintah nomor 70nomor 70/Permentan/SR.140/10/2011  tentang pupuk organik, pupuk hayati dan pembenah tanah pasal 1 ayat 1 yang dimaksud pupuk organic adalah pupuk yang berasal dari tumbuhan mati, kotoran hewan dan/atau bagian hewan dan/atau limbah organic lainnya yang telah melalui proses rekayasa, berbentuk padat atau cair, dapat diperkaya dengan bahan mineral dan/atau mikroba, yang bermanfaat untuk meningkatkan kandungan hara dan bahan organik tanah serta memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Limbah daun bambu dengan cara yang sederhana dapat diubah menjadi pupuk organik yang dapat digunakan kembali sebagai sarana produksi bagi kegiatan pertanian berikutnya. Pupuk dari daun bambu yang diberikan sebagai pupuk dasar pada media tanam, mengandung unsur hara, khususnya Fe dan Si yang tinggi sehingga pertumbuhan, hasil dan kualitas tanaman dapat meningkat.  Adanya Si pada pupuk dari daun bamboo dapat memberikan efek positif bagi tanaman baik pengaruh tak langsung pada tanah dengan meningkatkan ketersediaan P dan pengaruh langsung pada tanaman, seperti meningkatkan efisiensi fotosintesis, menginduksi ketahanan terhadap cekaman biotik: hama dan penyakit, dan abiotik: keracunan Fe, Al, dan Mn, mengurangi kerobohan dan memperbaiki ketegakan daun dan batang, serta memperbaiki efisiensi penggunaan air.

Berdasarkan hasil penelitian Purwanti, Sutoko dan Rismiyatun (2017), pupuk daun bambu dapat membuat media lebih remah karena daun bambu yang dikomposkan dengan penambahan pupuk kandang dari kotoran sapi dan biodekomposer EM4 mempunyai  BV 0,59  (BV tanah 1,28); selain itu kandungan hara tinggi: Silika total  yaitu 1539, N total 0,78; P2O5 total 0,6 dan K2O5 total 0,31 apabila dibandingkan dengan daun bambu yang dikomposkan tanpa penambahan pupuk kandang kotoran sapi dengan biodekomposer yang sama yaitu: Silika total 706; N total 0,89; P2O5 0,25 dan K2O5 0,09. Selain itu, menurut Purwanti, Sutoko dan Rismiyatun (2017), pupuk organik dari daun bambu yang dikomposkan dengan penambahan pupuk kandang kotoran sapi dan EM4 pada tanaman krisan menghasilkan ketegakan, kekokohan batang, kadar air batang, diameter dan panjang batang, diameter bunga dan ketahanan terhadap hama penyakit yang optimal.

Program Ipteks bagi Masyarakat ini adalah memanfaatkan limbah daun bambu sebagai pupuk organik, memperbaiki daya dukung lahan pertanian dan meningkatkan produktivitas tanaman pertanian  di wilayah dua kelompok tani  yang berlokasi di Kamal Kulon dan Kamal Wetan, Margomulyo, Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Perbaikan daya dukung lahan dan peningkatan produktivitas tanaman pertanian diupayakan dengan pemanfaatan pupuk organic berbahan dasar daun bambu ke lahan pertanian. Target khusus yang ingin dicapai adalah mengolah limbah daun bambu menjadi pupuk organic berbentuk granul yang dikemas dan dipasarkan dalam kelompok maupun ke wilayah Yogyakarta  dan sekitarnya. Metode yang dipakai untuk mencapai tujuan adalah penerapan teknologi proses pengolahan limbah daun bambu menjadi kompos organik, pengayakan dan granulasi kompos, pengemasan dan pemasaran produk.

KegiatanIbM yang telah dilakukan yaitu: pengumpulan limbah daun bambu, pemberian bantuan satu set alat pengolah sampah organik yang ditempatkan di Kamal Kulon dan pendampingan pengolahan menjadi pupuk organik granul. Pengemasan dan pemasaran produk direncanakan dilakukan setelah dilakukan uji coba di Kampus Institut Pertanian INTAN Yogyakarta dan di kelompok tani. Sebagai uji coba pupuk di kelompok tani sebagai langkah awal di  Kelompok Wanita Tani Kamal Wetan dan Kamal Kulon pada beberapa tanaman sayuran dengan wadah polybag yang telah disiapkan tim pengabdi pada tanggal 3 September 2017.

Bantuan peralatan pengolah sampah organik yaitu: mesin pencacah daun, mesin granulator pupuk (ditambah mesin pengayak) telah diserahkan pada tanggal 20 Juni 2017, dan sudah dilakukan pengujian penggunakan mesin pencacah daun untuk mencacah daun bambu kemudian dikomposkan dengan penambahan pupuk kandang kotoran sapi dan EM4. Hasil pengomposan daun bambu, pada tanggal 25 Agustus 2017 dilakukan perajangan lagi agar tidak terlalu kasar dan mudah diayak menggunakan mesin pengayak, kemudian dibuat granul dengan mesin granulator didampingi oleh CV Tunas Karya sebagai pembuat mesin dan tim pengabdi. Dengan bantuan peralatan 1 set mesin pengolah sampah organik maka daun bambu yang tadinya tidak berharga, dapat dibuat pupuk organik bentuk granul yang mempunyai nilai ekonomi, kaya hara dan praktis diaplikasikan oleh petani untuk  mengembalikan daya dukung lahan pertanian dan meningkatkan ekonomi masyarakat.




BERITA TERKAIT :